Sunday, January 18, 2015

Nama Dan Biografi Pangeran Antasari

Biografi Pangeran Antasari
Pangeran Antasari (Sultan Banjar) lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797(Arya Ajisaka, Mengenal Pahlawan Indonesia) atau 1809 (Sudarmanto, J. B. 2007. Jejak-jejak pahlawan: perekat kesatuan bangsa Indonesia. p. 159) – meninggal di Bayan Begok, Hindia-Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun, seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Ia adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja (Basuni, Ahmad .1986. Pangeran Antasari: pahlawan kemerdekaan nasional dari Kalimantan. p. 57).

Saturday, January 10, 2015

Nama Dan Biografi Wahid Hasjim

Biografi Abdul Wahid Hasyim
Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Sebagai ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid. Beliau adalah putera kelima dari pasangan K. H. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti K. Ilyas. Abdul Wahid sangatlah cerdas. Pada saat kanak-kanak, sudah pandai membaca al-Quran dan khatam al-Quran ketika berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, juga belajar di Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng.

Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah pemerintah kolonial. Meskipun begitu, pada usia 15 tahun, sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Saat berusia 18 tahun, berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di tanah suci, ia belajar selama dua tahun. Sepulang dari Mekkah, banyak menerima tawaran untuk aktif di perhimpunan atau organisasi pergerakan. Pada tahun 1938, ia memutuskan untuk bergabung bersama Nahdlatul Ulama, ia menjadi pengurus NU ranting Cukir. Beberapa waktu kemudian, dipercaya menjadi ketua NU Jombang. Pada tahun 1940, HBNO mengesahkan Departemen Ma’arif (Pendidikan) untuk dipimpin olehnya. Inilah awal keterlibatan Abdul Wahid Hasyim dalam kepengurusan NU di tingkat pusat (PBNU).

New Posts

DAFTAR ISI BLOG

Entri Populer